laporan tetap praktikum pangan dan hortikultura



LAPORAN PRAKTIKUM
TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA
BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG
DI ATP ( AGRO TECHNO PARK)







OLEH
SARAH DWI YUSTIANI
05111007112







PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA
2013
I.                   PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.
Berdasarkan temuan-temuan genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4.000 tahun yang lalu. Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung budidaya (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7.000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 kultivar jagung, baik yang terbentuk secara alami maupun dirakit melalui pemuliaan tanaman.
Jagung merupakan salah satu jenis bahan makanan yang mengandung sumber hidrat arang yang dapat digunakan untuk menggantikan (mensubstitusi) beras sebab :
a. Jagung memiliki kalori yang hampir sama dengan kalori yang terkandung pada padi
b. Kandungan protein di dalam biji jagung sama dengan biji padi, sehingga jagung dapat pula menyumbangkan sebagian kebutuhan protein yang diperlukan manusia
c. Jagung dapat tumbuh pada berbagai macam tanah, bahkan pada kondisi tanah yang agak kering pun jagung masih dapat ditanam (AAK, 2006).

B.     Tujuan

1.      Untuk mengetahui tingkat produksi dari beberapa varietas jagung manis
2.      Untuk mengetahui tingkat perbandingan dosis pupuk terhadap produksi tanaman jagung manis.


II.                TINJAUAN PUSTAKA

A.    Tinjauan Umum Tanaman Jagung

Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.
Bunga betina jagung berupa "tongkol" yang terbungkus oleh semacam pelepah dengan "rambut". Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai putik.
Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas.
Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).
Keragaman Jagung
Jagung dikelompokkan berdasarkan tipe bulir. Kiri atas adalah jagung gigi-kuda, di kiri latar depan adalah podcorn, sisanya adalah jagung tipe mutiara. Jagung yang dibudidayakan memiliki sifat bulir/biji yang bermacam-macam. Di dunia terdapat enam kelompok kultivar jagung yang dikenal hingga sekarang, berdasarkan karakteristik endosperma yang membentuk bulirnya:
  1. Indentata (Dent, "gigi-kuda")
  2. Indurata (Flint, "mutiara")
  3. Saccharata (Sweet, "manis")
  4. Everta (Popcorn, "berondong")
  5. Amylacea (Flour corn, "tepung")
  6. Glutinosa (Sticky corn, "ketan")
  7. Tunicata (Podcorn, merupakan kultivar yang paling primitif dan anggota subspesies yang berbeda dari jagung budidaya lainnya)
Dipandang dari bagaimana suatu kultivar ("varietas") jagung dibuat dikenal berbagai tipe kultivar:
  1. galur murni, merupakan hasil seleksi terbaik dari galur-galur terpilih
  2. komposit, dibuat dari campuran beberapa populasi jagung unggul yang diseleksi untuk keseragaman dan sifat-sifat unggul
  3. sintetik, dibuat dari gabungan beberapa galur jagung yang memiliki keunggulan umum (daya gabung umum) dan seragam
  4. hibrida, merupakan keturunan langsung (F1) dari persilangan dua, tiga, atau empat galur yang diketahui menghasilkan efek heterosis.
Warna bulir jagung ditentukan oleh warna endosperma dan lapisan terluarnya (aleuron), mulai dari putih, kuning, jingga, merah cerah, merah darah, ungu, hingga ungu kehitaman. Satu tongkol jagung dapat memiliki bermacam-macam bulir dengan warna berbeda-beda, karena setiap bulir terbentuk dari penyerbukan oleh serbuk sari yang berbeda-beda.
Kandungan gizi
Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin.
Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis diketahui mengandung amilopektin lebih rendah tetapi mengalami peningkatan fitoglikogen dan sukrosa.
Kandungan gizi Jagung per 100 gram bahan adalah:
·         Kalori : 355 Kalori
  • Protein : 9,2 gr
  • Lemak : 3,9 gr
  • Karbohidrat : 73,7 gr
  • Kalsium : 10 mg
  • Fosfor : 256 mg
  • Ferrum : 2,4 mg
  • Vitamin A : 510 SI
  • Vitamin B1 : 0,38 mg
  • Air : 12 gr
Dan bagian yang dapat dimakan 90 %. Untuk ukuran yang sama, meski jagung mempunyai kandungan karbohidrat yang lebih rendah, namum mempunyai kandungan protein yang lebih banyak. Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari.
Pemanfaatan
Selain sebagai bahan pangan dan bahan baku pakan, saat ini jagung juga dijadikan sebagai sumber energi alternatif. Lebih dari itu, saripati jagung dapat diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran pengganti fungsi utama plastik. Salah satu perusahaan di Jepang telah mencampur polimer jagung dan plastik menjadi bahan baku casing komputer yang siap dipasarkan.
Produksi jagung dan perdagangan dunia
Provinsi penghasil jagung di Indonesia : Jawa Timur : 5 jt ton; Jawa Tengah : 3,3 jt ton; Lampung : 2 jt ton; Sulawesi Selatan: 1,3 jt ton; Sumatera Utara : 1,2 jt ton; Jawa Barat : 700 – 800 rb ton, sisa lainnya (NTT, NTB, Jambi dan Gorontalo) dengan rata-rata produksi jagung nasional 16 jt ton per tahun.[5]Produsen jagung terbesar saat ini adalah Amerika Serikat (38,85% dari total produksi dunia), diikuti China 20,97%; Brazil 6,45%; Mexico 3,16%; India 2,34%; Afrika Selatan 1,61%; Ukraina 1,44% dan Canada 1,34%. Sedangkan untuk negara-negara Uni Eropa sebanyak 7,92% dan negara-negara lainnya 14,34%. Total produksi jagung pada tahun 2008/2009 adalah sebesar 791,3 juta MT.
Tanaman  jagung  atau  Zea  mays termasuk  ke  dalam  famili  graminiae  atau rerumputan,  kelas  monokotiledon,  genus  Zea  dan  termasuk  golongan  spesies  Zea mays.  Tanaman  ini  adalah  tanaman  C4  yang  lebih  produktif  dibandingkan  dengan tanaman  C3.  Tanaman  C4  dapat  memanfaatkan  energi  matahari  dengan  efisiensi yang  lebih  tinggi  dibandingkan  C3  sehingga  dapat  mensintesis  karbohidrat  lebih baik.  Tanaman  jagung  merupakan  tumbuhan  tropis  namun  dapat  beradaptasi  pada iklim tropis maupun subtropis. Fase pertumbuhan tanaman jagung dibagi menjadi 3 tahap yaitu fase vegetatif (V), reproduksi (R) dan matang fisiologis.
-  Akar
Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu akar seminal, akar adventif, dan akar kait atau penyangga. Akar seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Pertumbuhan akar seminal akan melambat setelah plumula muncul ke permukaan tanah. Akar adventif adalah akar yang semula berkembang dari buku di ujung mesokotil, kemudian set akar adventif berkembang dari tiap buku secara berurutan dan terus ke atas antara 7-10 buku, semuanya di bawah permukaan tanah. Akar adventif berkembang menjadi serabut akar tebal. Akar seminal hanya sedikit berperan dalam siklus hidup jagung.
Akar adventif berperan dalam pengambilan air dan hara. Akar kait atau penyangga adalah akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah. Fungsi dari akar penyangga adalah menjaga tanaman agar tetap tegak dan mengatasi rebah batang. (Effendi, 1984).
-  Batang
Tanaman jagung mempunyai batang yang tidak bercabang, berbentuk silindris dan terdiri atas sejumlah ruas dan buku. Pada buku terdapat tunas yang berkembang menjadi tongkol. Dua tunas teratas berkembang menjadi tongkol yang produktif .
-  Daun
Jumlah daun umumnya berkisar antara 10-18 helai, rata-rata munculnya daun yang terbuka sempurna adalah 3-4 hari setiap daun. Tanaman jagung di Universitas Sumatera Utara daerah tropis mempunyai jumlah daun relatif lebih banyak dibanding di daerah beriklim sedang (temperate)(Suprapto dan Marzuki, 2002).
-  Bunga                                                                 
Jagung disebut tanaman berumah satu (monoeciuos) karena bunga jantan dan betinanya terdapat dalam satu tanaman. Tanaman jagung adalah protandri, di mana pada sebagian besar varietas, bunga jantannya muncul (anthesis) 1-3 hari sebelum rambut bunga betina muncul (silking). Penyerbukan pada jagung terjadi bila serbuk sari dari bunga jantan menempel pada rambut tongkol (putik).
Hampir 95% dari persarian tersebut berasal dari serbuk sari tanaman lain (serbuk silang) dan hanya 5% yang berasal dari serbuk sari tanaman sendiri (serbuk sendiri), oleh karena itu, tanaman jagung disebut tanaman bersari silang (cross pollinated crop). Terlepasnya serbuk sari berlangsung 3-6 hari bergantung pada varietas, suhu, dan kelembaban (Sudaryono, 1998).
Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang jumlahnya selalu genap(Suprapto dan Marzuki, 2002).
Tanaman jagung adalah tanaman semusim dengan siklus hidup 80-150 hari  dan  termasuk  sayuran  yang  tergolong  sayuran  biji-bijian  (jagung  dan kacang-kacangan)  yang  aslinya  berasal  dari  Meksiko,  jagung  yang  banyak ditanam di Indonesia adalah tipe mutiara (flint) dan setengah mutiara (semiflint). Selain  jagung  tipe  mutiara  dan  setengah  mutiara,  di  Indonesia  juga  terdapat jagung  tipe  berondong  (pop  corn),  jagung  gigi  kuda  (dent  corn),  dan  jagung manis (sweet corn) (Suprapto & Marzuki 2005).
Jagung  telah  tersebar  di  seluruh  Indonesia.  Di  daerah-daerah  yang terdapat tempat-tempat penelitian dan pengembangan tanaman pangan seperti di  daerah  Jawa  Barat  mampu  menghasilkan  jagung  manis  (sweet  corn)  yang banyak  digemari  serta  semakin  meluas  dan  berkembang. 
Tanaman  jagung manis ini dapat menyumbangkan hasil untuk keperluan konsumsi manusia. Hasil produksinya  yang  berupa  jagung  muda  apabila  telah  direbus  mempunyai  rasa yang  enak  dan  manis  yang  disebabkan  kandungan  gulanya  yang  tinggi  dan terdapat gen yang resesif yang mencegah perubahan dari gula menjadi pati (Aak 2010).

B.     Budidaya Tanaman Jagung
Budidaya tanaman jagung pada umumnya tidaklah terlalu sulit, karena tanaman ini sangat cocok tumbuh di Indonesia yang memiliki iklim tropis. Tanaman jagung mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap tanah, baik jenis tanah lempung berpasir maupun tanah lempung dengan pH tanah 6-8. Jagung ini kebanyakan ditanam di dataran rendah, baik sawah tadah hujan maupun sawah irigasi. Sebagian terdapat juga di daerah pergunungan pada ketinggian 1000-1800 m di atas permukaan laut.
Syarat Tumbuh
Iklim
Faktor-faktor iklim yang terpenting adalah jumlah dan pembagian dari sinar matahari, curah hujan, temperatur, kelembaban, dan angin. Tempat penanaman jagung harus mendapatkan sinar matahari cukup dan jangan terlindung oleh pohon-pohon atau bangunan. Bila tidak terdapat penyinaran dari matahari, hasilnya akan berkurang. Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Kami mulai menanam jagung pada awal musim hujan. Suhu optimumnya antara 23 0C–300 C.


Media Tanam
Media tanam yang kami gunakan dalam budidaya jagung ini tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur, dan kaya humus agar berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5.
Ketinggian Tempat
Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl.
PEDOMAN BUDIDAYA
Syarat Benih
Bermutu tinggi baik genetik, fisik, dan fisiologi (jagung manis hibrida varietas sweet boy). Daya tumbuh benih lebih dari 90% dan bersetifikat. Kebutuhan benih pada lahan 20 m X 80 m ± 18 g atau sekitar 128 benih.
Pengolahan Lahan
Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa rumput yang cukup banyak dicangkul (dibalikan) untuk menjadi pupuk organik dikembalikan ke dalam tanah. Tanah yang akan ditanami, dicangkul sedalam 20-30 cm, kemudian diratakan. Dibuat bedengan atau jalur lahan seluas 80 cm X 40 cm.
Pemupukan
a. Seminggu sebelum benih di tanam ke lubang tanam, diberikan 0,31 kg pupuk kandang per lubang tanam untuk mengembalikan unsur hara dalam tanah
b. Pada saat tanam, diberikan Urea 12,5 gram/lubang tanam; SP36 6,25 gram/lubang tanam; dan KCl 2,08 gram/lubang tanam, cara pemberiannya adalah dengan tugal pada jarak 5 cm dari lubang tanam dan ditutup lagi
c. Susulan I, pada saat umur 21 HST dengan Urea 12,5 gram/lubang tanam; SP36 6,25 gram/lubang tanam; dan KCl 2,08 gram/lubang tanam ditugal dengan jarak 10 cm dari lubang tanam dan ditutup lagi
d. Susulan II, pada umur 35 HST pemberian Urea sebanyak 12,5 gram/lubang tanam; SP36 gram/ lubang tanam; dan KCl 2,08 gram/lubang tanam ditugal dengan jarak 15 cm dari tanaman jagung
e. Pemakaian furadan dapat diaplikasikan pada saat benih mulai ditanam dengan cara menyebarkannya di sekitar benih sebanyak 0,5 gram per tanaman.
f. Untuk mencegah dari serangan hama lalat bibit, maka diberi insektisida granul (WinGran 0,5 G) ke dalam lubang tanam dengan dosis 1 gram/lubang tanam.
Teknik Penanaman
a. Penentuan Pola Tanaman
Pola tanam yang kami gunakan dalam budidaya jagung adalah melakukan penanaman lebih dari 1 butir benih yaitu 2 butir benih dalam tiap lubang dengan menggunakan 16 bedengan yang berisi 4 lubang tanam, jadi populasi keseluruhan jagung berkisar 64-128 tanaman. Tetapi apabila penanamannya terganggu maka kami akan melakukan penjarangan, agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman yang lainnya dalam satu lubang tersebut.
b. Lubang Tanam dan Cara Tanam
Lubang tanam ditugal dengan kedalaman 5-8 cm dan jarak tanam 70 cm X 40 cm. Terdiri dari 16 bedengan dan setiap bedengan ada 4 lubang tanam, sehingga populasi tanaman yang dihasilkan adalah 64-128 tanaman. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar.
Pemeliharaan Tanaman
Pemupukan. Tanaman jagung tidak akan memberikan hasil maksimal manakala unsur hara yang diperlukan tidak cukup tersedia. Pemupukan dapat meningkatkan hasil panen secara kwantitatif maupun kwalitatif. Pemberian pupuk Nitrogen merupakan, kunci utama dalam usaha meningkatkan produksi. Pemberian pupuk phosphat dan kalium bersama-sama dengan nitrogen memberikari hasil yang lebih baik. Tanaman yang kekurangan unsur nitrogen, akan nampak kerdil, warna daun hijau muda kekuning-kuningan, buah terbentuk sebelum waktunya dan tidak sempurna: Gejala kekurangan unsur, phosphat. jelas terlihat terutama pada waktu tanaman masih muda di mana daun-daunnya berwarna ungu dan akan berubah hijau kembali seperti biasa bilamana kemudian tanaman-mendapatkan cukup, phosphat.
Tanaman yang kekurangan kalium memberikan gambaran seolah-olah layu, bagian tepi dari daun mula-mula menjadi kuning (chlorosis), kemudian berubah menjadi kecoklat-coklatan dan bagian daun yang sudah mati akan gugur. Dosis pupuk yang diperlukan berbeda-beda: tergantung dari pada tingkat kesuburan dan jenis tanah. Untuk sementara secara umum dapat dianjurkan, pemakaian pupuk sebanyak 90-120 kg.N, 30 - 45 kg. P2O5 dan 0-25 kg K2O per Ha. Pada tanah-tanah yang cukup mengandung akan kalium, pemupukan dengan unsur ini dapat ditiadakan.
Pupuk diberikan secara ditugal sedalam 10 cm, pada kedua sisi tanaman dengan jarak 7 cm, Pada jarak tanam yang rapat pupuk dapat diberikan di dalam larikan yang dibuat di kiri kanan barisan tanaman: Pupuk N sebaiknya diberikan dua kali yaitu:1/3 bagian pada waktu tanam bersama-sama dengan seluruh pupuk P dan K, kemudian 2/3 bagian pupuk N diberikan pada waktu tanaman berumur 1 bulan, di dalam lubang atau larikan sedalam 10 cm pada jarak 15 cm dari barisan tanaman. Penyiangan dan Pembumbunan: Untuk memperoleh hasil yang tinggi, pertanaman harus bersih dari segala macam tumbuhan/rumput pengganggu. Salah satu herbisida yang baik untuk memberantas tumbuhan pengganggu, pada jggung, adalah Gramoxone, yang disemprotkan pada waktu tanaman berumur 3 dan 5 minggu,masing-masing sebanyak 11/2 liter yang dilarutkan dalam 400 - 500 liter air/ ha. Penyiangan dengan tangan (hand weeding) yang pertama dilakukan pada umur 15 hari dan harus, dijaga agar, jangan sampai mengganggu/merusak akar tanaman. Penyiangan kedua dilakukan sekaligus dengan pembumbunan pada waktu pemupukan kedua: Pembumbunan ini berguna untuk memperkokoh batang dalam menghadapi angin besar, juga dimaksudkan untuk memperbaiki drainase dan mempermudah pengairan bilama diperlukan.
a. Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 30 HST. Tanaman yang tumbuh paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tepat di atas permukaan tanah. Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.
b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau garu, dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.
c. Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.
d. Pengairan dan penyiraman
Pengairan dan penyiraman diberi secukupnya selama masa pertumbuhan, terutama pada saat musim kemarau. Pengairan berikutnya diberikan 2 minggu sekali atau pada saat dibutuhkan sampai tongkol terisi penuh. Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung. Pengairan atau penyiraman dikakukan secara irigasi dengan menggunakan selang, karena lahan jauh dari sumber air. Sumber air terdapat pada gedung sekolah yang terletak berdekatan dengan lahan budidaya.
Hama dan Penyakit
A. Hama
· Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman; tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan; dan sanitasi kebun.
· Ulat Pemotong
Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong Agrotis ipsilon, Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: tanam serentak atau pergiliran tanaman; cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah).
B. Penyakit
· Penyakit bulai (Downy mildew)
Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis, P. Javanica, dan P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 27 0C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: pada umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, dan sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; pada umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: penanaman menjelang atau awal musim penghujan; pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; cabut tanaman terserang dan musnahkan.
· Penyakit bercak daun (Leaf bligh)
Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Pengendalian: pergiliran tanaman; mengatur kondisi lahan agar tidak lembab.
· Penyakit karat (Rust)
Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. Pengendalian: mengatur kelembaban; menanam varietas tahan terhadap penyakit; sanitasi kebun.
· Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. Pengendalian: mengatur kelembaban; memotong bagian tanaman dan dibakar.
· Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: menanam jagung varietas tahan penyakit, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, dan perlakuan benih.

C.    Panen dan Pasca Panen Tanaman Jagung
Ciri dan Umur Panen
Umur panen 68 hari setelah tanam, dimana buah sudah dikatakan masak secara fisiologis dengan ciri-ciri daun dan kelobot sudah mongering (menguning). Bila kelobot dibuka biji sudah tampak. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.
Cara Panen
Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.
Pengupasan
Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.
Pengeringan
Pengeringan jagung dengan sinar matahari (± 7-8 hari) hingga kadar air menjadi ± 9% -11 % atau dengan mesin pengering.
Pemipilan
Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.



Penyortiran dan Penggolongan
Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan, dan menaikkan kualitas panenan.

KENDALA SAAT MELAKUKAN BUDIDAYA

a. Hama Ulat Pemotong (Agrotis ipsilon, Spodoptera litura)
Tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, adanya bekas gigitan pada batang, tanaman yang masih muda menjadi roboh (jumlah yang terserang ± 3 tanaman jagung).
b. Air
Kurangnya ketersediaan air di lahan pada saat musim kemarau.
SOLUSI
a. Hama Ulat Pemotong (Agrotis ipsilon, Spodoptera litura)
Tanam serentak atau pergiliran tanaman, cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah).
b. Air
Membayar iuran setiap minggunya untuk pengambilan air, karena saat itu cuacanya sedang dalam keadaan musim kemarau yang cukup panjang, jadi ketersediaan air sedikit.
Pemanenan jagung dilakukan pada saat jagung telah berumur sekitar 100 hst tergantung dari jenis varietas yang digunakan. Jagung yang telah siap panen atau sering disebut masak fisiologis ditandai dengan daun jagung/klobot telah kering, berwarna kekuning-kuningan, dan ada tanda hitam di bagian pangkal tempat melekatnya biji pada tongkol. Panen yang dilakukan sebelum atau setelah lewat masak fisiologis akan berpengaruh terhadap kualitas kimia biji jagung karena dapat menyebabkan kadar protein menurun, namun kadar karbohidratnya cenderung meningkat. Setelah panen dipisahkan antara jagung yang layak jual dengan jagung yang busuk, muda dan berjamur selanjutnya dilakukan proses pengeringan.
Permasalahan akan timbul bila waktu panen yang berlangsung pada saat curah hujan masih tinggi, sehingga kadar air biji cukup tinggi, karena penundaan pengeringan akan menyebabkan penurunan kualitas hasil biji jagung. Cara pengeringan selain dengan penjemuran langsung di ladang, juga dapat dilakukan dalam bentuk tongkol terkupas yang dikeringkan di lantai jemur dengan pemanasan matahari langsung, dan bila turun hujan ditutupi dengan terpal plastik.
Cara pengeringan jagung demikian memiliki kelemahan karena mudah ditumbuhi jamur, serangan hama kumbang bubuk, dan kotoran. Selain itu nilai kadar air biji jagung biasanya masih tinggi ( >17%).
Penundaan panen selama 7 hari setelah masak fisiologis dapat membantu proses penurunan kadar air dari 33% menjadi 27%. Namun penundaan pengeringan dengan cara menumpuk tongkol jagung yang telah dipanen di atas terpal selama 3–5 hari, meskipun mampu menurunkan kadar air akan tetapi dapat menyebabkan terjadinya serangan cendawan sampai mencapai 56-68%, sedangkan tanpa penundaan pengeringan, serangan cendawan dapat ditekan menjadi hanya berkisar antara 9-18%. Penyebab lain terjadinya kerusakan pada biji jagung adalah karena adanya luka pada saat pemipilan, dan ini terjadi jika saat pemipilan kadar air biji masih tinggi (>20%).
Biji yang terluka pada kondisi kadar airnya masih tinggi menyebabkan mudah terinfeksi oleh cendawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemipilan jagung pada kadar air 15-20% dapat menimbulkan infeksi cendawan maksimal mencapai 5%. Dengan menggunakan alat dan mesin pemipil pada kadar air biji jagung 35%, infeksi cendawan mencapai 10-15%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kadar air biji dan semakin lama disimpan, peluang terinfeksi cendawan akan lebih besar. Demikian halnya dengan tingkat serangan hama kumbang bubuk.
Pemanenan dilakukan pada saat jagung telah mencapai masak fisiologis yaitu berkisar 100 hari setelah tanam tergantung dari jenis varietas yang digunakan. Pada umur demikian biasanya daun jagung/klobot telah kering dan berwarna kekuning-kuningan.
Ciri jagung yang siap dipanen adalah:
a) Umur panen adalah 86-96 hari setelah tanam.
b) Jagung siap dipanen dengan tongkol atau kelobot mulai mengering yang ditandai dengan  adanya lapisan hitam pada biji bagian lembaga.
c) Biji kering, keras, dan mengkilat, apabila ditekan tidak membekas.


Proses Pasca Panen Jagung

Penanganan pasca panen jagung di antaranya meliputi :
a. Pemipilan dengan tangan
b. Pemipilan dengan mesin
c. Penjemuran jagung setelah dipipil
d. Proses sortasi dan grading
e. Penyimpanan jagung pipilan yang sudah disortir
f. Pengiriman Jagung pipilan untuk di ekspor
g. Pengolahan jagung
Penanganan pasca panen secara garis besar dapat meningkatkan daya gunanya sehingga lebih bermanfaat bagi kesejahteraan manusia. Hal ini dapat ditempuh dengan cara mempertahankan kesegaran atau mengawetkannya dalam bentuk asli maupun olahan sehingga dapat tersedia sepanjang waktu sampai ke tangan konsumen dalam kondisi yang dikehendaki konsumen. Persyaratan mutu jagung untuk perdaganagn menurut SNI dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu persyaratan kualitatif dan persyaratan kuantitatif.
Persyaratan kualitatif meliputi :
a. Produk harus terbebas dari hama dan penyakit
b. Produk terbebas dari bau busuk maupun zat kimia lainnya (berupa asam)
c. Produk harus terbebas dari bahan dan sisa-sisa pupuk maupun pestisida
d. Memiliki suhu norma
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A.    Tempat dan Waktu
Praktikum budidaya tanaman jagung sebagai tanaman pangan dilaksanakan di Agro Techno Park (ATP), gelumbang. Dilaksanakan setiap hari Sabtu, tanggal 2 Maret sampai 27 Mei 2013.
B.     Alat dan Bahan
Alat :
1.      Gelas aqua 4 /kelompok
2.      Meteran gulung 1 /kelompok
3.      Papan nama /kelompok
4.      Tiang patok 4/kelompok
5.      Tugalan 4/kelompok
6.      Tali 80 meter/kelompok
7.      Timbangan 2/kelompok
Bahan :
1.      Benih agung 3 varietas
-          Varietas B41
-          Varietas L164
-          Varietas S201
2.      Pupuk kandang 2500 kg/ha
C.    Cara Kerja
a.       Pembagian lahan-panen
1.      Pembagian lahan di lapangan, setiap kelompok 10 baris dan panjang 25 m.
2.      Penanaman benih jagung dengan jarak tanam 70 x 20 cm.
-          Varietas 1 ( varietas B41), yaitu kelompok 1, 4, 7, 10, 13, dan 16
-          Varietas 2 ( Varietas L164), yaitu kelompok 2, 5, 8, 11, 14, dan 17
-          Varietas 3 ( Varietas S201), yaitu kelompok 3, 6, 9, 12, 15, dan 18
3.      Setelah satu minggu penanaman dilakukan pemupukan dengan dosis 50 dan 100 % (pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang)
-          Dosis 50 %, yaitu kelompok ganjil
-          Dosis 100 %, yaitu kelompok genap
4.      Setelah pemupukan, 2 minggu kemudian dilakukan penyiangan gulma dan pembumbunan (kegiatan ini dilakukan sebanyak 3x interval waktu 2 minggu sekali)
5.      Setelah tanaman jagung siap panen sekitar umur 85 hari, lakukan pemanenan secara serentak.
b.      Pasca Panen
1.      Lakukan penimbangan untuk mengetahui produksi tanaman jagung sesuai dengan tingkat kualitas tanaman jagung manis.
2.      Buat laporan dalam bentuk bundelan.

III.             HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil
I.                   Pengolahan Lahan
Alat pengolahan lahan
Alat tambahan
Tinggi bajak
Luas lahan
Bajak
Garu
Cangkul
Sengkuit
15 cm
7 m x 25 m

II.                Budidaya Jagung
a.      Perlakuan pupuk
kelompok
varietas
Luas lahan
Dosis pupuk
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
B41
L164
S201
B41
L164
S201
B41
L164
S201
B41
L164
S201
B41
L164
S201
B41
L164
S201
175 m2 
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
100 %
50 %
100 %
50 %
100 %
50 %
100 %
50 %
100 %
50 %
100 %
50 %
100 %
50 %
100 %
50 %
100 %
50 %

b.      Penanaman
Kelompok
varietas
Luas lahan
Jumlah benih
Cara penanaman
Jarak tanam
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
B41
L164
S201
B41
L164
S201
B41
L164
S201
B41
L164
S201
B41
L164
S201
B41
L164
S201
175 m2 
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
175 m2
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
250
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
Ditugal
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm
70 x 20 cm

c.       Pemeliharaan
Luas lahan
Waktu penyiangan
alat
Cara penyiangan
175 m2
175 m2
175 m2
23 Maret 2013
6 April 2013
27 April 2013
Cangkul
Cangkul
Cangkul
Manual
Manual
Manual

B.     Pembahasan
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produksi tanaman jagung dapat dari berbagai hal, salah satu contohnya yaitu faktor iklim. Iklim merupakan keadaan dimana yang sangat menentukan sehingga tidak semua tanaman dapat tumbuh pada setiap iklim. Selain iklim dapat menentukan produktivitas tanaman jagung tetapi dapat juga menentukan dalam hal kandungan gizi yang dihasilkan tanaman tetapi masyarakat tidak mementingkan gizi yang terkandung dalam tanaman jagung tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki iklim tropis yang hanya memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan kemarau. Untuk daerah iklim tropis kandungan gizi dalam tanaman hanya banyak mengandung karbohidrat yang tinggi tetapi rendah kandungan protein pada setiap tanaman yang dihasilkan.
Peningkatan produktivitas tanaman jagung merupakan hal yang penting dalam memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia. Dalam hal peningkatan produksi tanaman jagung ini perlu memperhatikan berbagai faktor seperti iklim, esensial, hama dan penyakit danvarietas tanaman yang akan ditanam. Salah satu faktok iklim yang berpengaruh dalam meningkatkan produksi tanaman adalah cahaya. Cahaya merupakan hasil dari gabungan antara berbagai warna yang ditimbulkan oleh sinar matahari atau benda lain yang dapat menghasilkan cahaya. Bagi tanaman cahaya sangat penting karena menyangkut berbagai hal dalam melakukan fotosintesis yang dibutuhkan oleh tanaman untuk melangsungkan hidupnya. Bukan hanya dalam hal fotosintesis cahaya yang diperlukan oleh tanaman tetapi proses pekembangan seperti perkecambahan, perpanjangan batang, membukanya hipocotyl, perluasan daun, sintesa klorofil, gerakan batang dan daun, pembukaan bunga dan dormansi tunas .
Irigasi merupakan salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman dengan membuat saluran-saluran irigasi sehingga ketika air dibutuhkan oleh tanaman petani perlu mengalirkan air ke dalam petak tanaman jagung tersebut. Hal ini tersebut merupakan salah satu manfaat pengairan atau irigasi bagi tanaman dan petani. Untuk tanaman jagung panjang akar hanya mencapai panjang 25 cm sehingga dalam mencari sumber air tanaman jagung tidak dapat menjangkau air tanah yang dalam. Untuk irigasi tanaman jagung lebih baik menggunakan irigasi bawah permukaan karena panjang akar tanaman jagung tidak cukup untuk menjangkau air tanah yang dalam selain itu irigasi ini hanya diperuntukkan bagi tanaman produksi.
   Jagung merupakan salah satu komuditas utama yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat terutama di Indonesia. Jumlah jagung yang diproduksi oleh masyarakat belum cukup untuk memenuhi permintaan pasar karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang bagaimana cara membudidayakan jagung yang benar dan baik dan tanah atau lahan untuk tanaman jagung telah banyak dialih fungsikan sebagai gedung-gedung dan lain-lain. Perusahaan swasta pun juga belum memproduksi jagung secara optimal. Jagung juga sebagai makanan pokok di suatu daerah tertentu dan diubah menjadi beberapa makanan ringan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat sehingga kebutuhan akan jagung meningkat di masyarakat.
Hasil tanaman jagung juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu masih belum optimalnya penyebaran varietas unggul dimasyarakat, pemakaian pupuk yang belum tepat, penerapan teknologi dan cara bercocok tanam yang beum diperbaiki. Usaha untuk meningkatkan produksi tanaman jagung adalah peningkatan taraf hidup petani dan memenuhi kebutuhan pasar maka perlu peningkatan produksi jagung yang memenuhi standard baik kualitas dan kuantitas jagung yan dihasilkan tetapi dalam melakukan hal tersebut perlu mengetahui atau memahami karakteristik tanaman jagung yang akan ditanam seperti morfologi, fisiologi dan agroekologi yang diperlukan oleh tanaman jagung sehingga dapat meningkatkan produksi jagung di Indonesia.
            Banyak kegunaan tanaman jagung selain sebagai makanan tetapi jagung dapat dijadikan sebagai tepung, jagung rebus, jagung bakar dan lain-lain sehingga dapat meningkatkan permintaan untuk tanaman jagung. Semakin banyak permintaan pasar maka akan meningkatkan jumlah permintaan sehingga produksi tanaman atau barang akan semakin menurun karena stok barang semakin menipis serta meningkatkan harga barang. Jagung juga mengandung karbohidrat yang sangat banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Keunggulan komparatif dari tanaman jagung banyak diolah dalam bentuk tepung, makanan ringan atau digunakan untuk bahan baku pakan ternak. Hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk keperluan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Sejalan dengan perkembangan industri pengolah jagung dan  perkembangan sektor peternakan,  permintaan akan jagung cenderung semakin meningkat.
            Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang jumlahnya selalu genap.
Biji jagung disebut kariopsis, dinding ovari atau perikarp menyatu dengan kulit biji atau testa, membentuk dinding buah. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama, yaitu (a) pericarp, berupa lapisan luar yang tipis, berfungsi mencegah embrio dari organisme pengganggu dan kehilangan air; (b) endosperm, sebagai cadangan makanan, mencapai 75% dari bobot biji yang mengandung 90% pati dan 10% protein, mineral, minyak, dan lainnya; dan (c) embrio (lembaga), sebagai miniatur tanaman yang terdiri atas plamule, akar radikal, scutelum, dan koleoptil.
Kulit biji merupakan bagian dari biji yang terdiri dari dua lapis sel yang menyelubungi biji yang disebut integumen. Pada biji yang telah masak, didnding sel telur (perikarp) melekat sangat erat pada kulit biji, sehingga perikarp dan kulit biji ini seolah-olah merupakan selaput tunggal. Kulit biji dan perikarp yang bersatu dan merupakan satu lapisan disebut hull yang merupakn cirikhas dari tanaman rumput-rumputan. Embrio dan endosperm yang merupakan sumber makanan terdiri dari yaitu eksternal dan internal.
Bagian eksternal adalah endosperma, sedangkan bagian internal terdapat pada kotiledon atau skutellum. Skutellum merupakan penghubung yang terletak di bagian tengah kotiledon. Pada umumnya endosperm terdiri dari dua macam yaitu endosperm lunak dan endosperm keras. Kotiledon diselubungi oleh lapisan sel-sel tipis tipis yang disebut epithelium yang terletak di antara kotiledon dan endosperm. Koleoptil adalah adalah calon daun yang berfungsi untuk penetrasi ke atas permukaan tanah selama proses perkecambahan.
IV.             KESIMPULAN

1.      Budidaya jagung manis meliputi pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, pembumbunan, pengairan, pengendalian gulma, hama dan patogen penyebab penyakit dan panen.
2.      Jagung (Zea mays. L.) merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kehidupan manusia. Jagung mempunyai kandungan gizi dan serat kasar yang cukup memadai sebagai bahan makanan pokok pengganti beras. Selain sebagai makanan pokok, jagung juga merupakan bahan baku makanan ternak.
3.      Berbagai jenis hama jagung menyerang jagung di ladang. Serangan hama ini dapat menyebabkan kematian pada tanaman jagung yang dipelihara dalam jumlah besar. Karena itu, perlu adanya pengetahuan dan peningkatan pencegahan tepat, sehingga serangga hama dan penyakit dapat dihindari.
4.      Cara pengolahan tanah sangat berpengaruh terhadap perkembangan tanaman jagung dan kualitas panen yang dihasilkan.
5.      Dalam perencanaan usaha pertanian khususnya budidaya tanaman jagung perlu mengetahui kondisi lingkungan yang sesuai dengan tanaman jagung.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1992. Bercocok Tanam Jagung. Puslitbang Tanaman Pangan dan Pengembangan Pertanian, Institut Pertanian, Bogor.
Effendi, S. 1980. Bercocok Tanam Jagung. C.V. Yasaguna. Jakarta.
Gardner, F.P., R.B. Pearce and R.L. Mitchell. 1991. Physiology of Crop Plants (Fisiologi Tanaman Budidaya, Alih Bahasa Herawati Susilo). UI Press, Jakarta.
Jugenheimer, R. W. 1958. Hybrid Maize Breedeng and Seed Production. FAO, Rome.
Nugroho, A.,Syamsulbahri., D. Hariyono., A. Soegainto dan Hanitin. 2000. Upaya meningkatkan hasil jagung manis melalui pemberian kompos azolla dan pupuk N. Agrivita 22: 11-17.
Rubatzky, V. E. dan M. Yamaguchi. 1998. World Vegetables :Principles, Production and Nutritive Values (Sayuran Dunia I, Prinsip , Produksi dan Gizi, alih bahasa oleh C. Horison). Institut Teknologi bandung, Bandung.
Sprague, G.F. 1977. Corn and Corn Improvement. American Society of Agronomy, Inc. USA.
Suminarti, E. N. 2000. Pengaruh jarak tanam dan defoliasi daun terhadap hasil tanaman jagung Zea mays varietas Bisma. Habitat 11:110-117














LAMPIRAN


      

      

      
      

      


PESAN DAN KESAN


a.      Pesan
Saya berharap praktikum ini akan berjalan lebih baik lagi untuk kedepannya.

b.      Kesan
            Dari pengalaman yang saya alami selama praktikum ini sangat berkesan. Dimana saya tidak akan melukan pengalaman dari praktikum ini. Awalnya sih memang capek menjalaninya tapi lama kelamaan sudah menjadi rutinitas. Dengan terjun langsung ke lapangan dalam hal menanam tanaman pangan yang kali ini menanam jagung saya dapat langsung mengetahui teknik budidaya tanaman jagung. Memang terik matahari yang menyengat kulit adalah penghalang terbesar dalam praktikum ini tetapi tidak menjadikan alas an untuk tidak menjalankannya.
            Di mana di saat praktikum saya dan bersama anggota kelompok saya, kami mebuat tugalan, menanam, memupuk, menyiangi gulma hingga panen kami menjalani nya bersama. Dan satu hal lagi bahwa saya mendapatka kelompok yang memang memiliki semangat kerja untuk menjalani praktikum ini yang tinggi, sehingga kerjaan yang dilakukan terasa ringan.
            Terima kasih kepada para asisten yang tidak pernah capek untuk membimbing kami disaat kami berada dilapangan. Walaupun di pertengahan  praktikum terjadi sedikit masalah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penetapan N-Total tanah

laporan penetapan tekstur tanah di laboratorium

laporan okulasi karet