laporan tetap pembuatan kompos
LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM
PERTANIAN ORGANIK
PEMBUATAN KOMPOS

SARAH DWI YUSTIANI
05111007112
KELOMPOK : 7
KELAS : A
AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013
I.
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sampah merupakan sisa-sisa aktivitas makhluk hidup yang
indentik dengan bahan buangan yang tidak memiliki nilai, kotor, kumuh, dan bau.
Sampah organik seperti dedaunan yang berasal dari taman, jerami, rerumputan,
dan sisasisa sayur, buah, yang berasal dari aktivitas rumah tangga (sampah
domestik) memang sering menimbulkan berbagai masalah. Baik itu masalah
keindahan dan kenyamanan maupun masalah kesehatan manusia, baik dalam lingkup
individu, keluarga, maupun masyarakat. Masalah-masalah seperti timbulnya bau
tak sedap maupun berbagai penyakit tentu membawa kerugian bagi manusia maupun
lingkungan disekitarnya, baik meteri maupun psikis. Melihat fakta tersebut,
tentu perlu adanya suatu tindakan guna meminimalkan dampak negatif yang timbul
dan berupaya meningkatkan semaksimalmungkin dampak positifnya.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meminimalkan
dampak negatif yang ditimbulkan sampah organik domestik adalah mengolah sampah
tersebut dengan teknik komposter tanpa penambahan aktivator pengomposan,
disamping terdapat berbagai teknik pengolahan lain (dengan penambahan aktivator
pengomposan) menghasilkan produk yang bernilai lebih, baik dari segi nilai
ekonomi yaitu memiliki suplemen bagi tanaman. Meskipun dalam metode ini tidak
ditambahkan aktivator pengomposan,namun ke dalamnya ditambahkan organik agen
(serbuk gergaji dan kotoran hewan) yang berfungsi memacu pertumnuhan mikroba
dan manambah unsur hara dalam kompos.
Dalam melakukan teknik penomposan, ada berbagai hal yang
perlu diperhatikan agar proses pengomposan berjalan dengan cepat sehingga masa
panen relatif singkat dan cepat. Hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah
proses pencacahan yang sebisa mungkin halus sehingga mudah di dekomposisi,
kelembaban dan aerasi yang mendukung kerja mikroorganisme, maupun kadar karbon
dan Nitrogen yang ideal.
Kompos merupakan hasil fermentasi
atau dekomposisi dari bahan-bahan organic seperti tanaman, hewan, atau limbah
organic lainnya. Kompos yang digunakan sebagai pupuk disebut pupuk organic
karena bahan penyusunnya terdiri dari bahan-bahan organic.
Sifat kompos adalah :
1) memperbaiki struktur tanah,
2) memperbesar daya ikat tanah berpasir,
3) meningkatkan daya ikat air pada tanah,
4) memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah,
5) mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara,
6) membantu pelapukan bahan mineral,
7) memberi ketersediaan bahan makanan bagi mikroba,
8) menurunkan aktivitas mikroorganisme yang merugikan.
Kelebihan kompos yang dibuat dengan
memanfaatkan aktifator atau mikroba adalah mengandung mikroba yang berfungsi
untuk melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Beberapa contoh
kompos yang dibuat dengan menggunakan mikroba decomposer/pengurai antara lain
yaitu Bokashi.
Pengomposan dapat didefinisikan sebagai degradasi biokimia
bahan organik menjadihumus. Bentuk sederhana pengomposan dilakukan secara
anaerobic yang seringmenimbulkan gas seperti indol, skatol, dan merkaptan pada
suhu rendah. Proses pengomposan secara anaerobic membutuhkan oksigen yang cukup
dan tidak menghasilkangas yang berbahaya seperti pada anaerobic (Gumbira, E,
1992).Proses pengomposan dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti ukuran,
bahan, kadar air, aerasi, pH, suhu, dan perbandingan C dan N.
B.
TUJUAN
Untuk mengetahui cara dan teknik
pembuatan kompos dari tongkol jagung dan kotoran sapi.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian
Kompos dan Pengomposan
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari
campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh
populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab,
dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003).
Pengomposan adalah proses dimana bahan organik
mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang
memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.
2.2
Manfaat
Pengomposan
Pengomposan
memiliki banyak manfaat, diantaranya:
a.
manfaat ekonomi
-
Meningkatkan efisiensi biaya pengangkutan sampah disebabkan sampah yang
diangkut ke TPA ( Tempat Pembuangan Akhir) semakin berkurang.
Selain itu dapat memperpanjang TPA karena semakin sedikit sampah
yang dikelola.
-
Menghasilkan produk berupa kompos yang memiliki nilai tambah karena produk
tersebut memilik nilai jual.
b. manfaat terhadap lingkungan
-
manfaat estetika. Adanya pengomposan, berarti adanya pengurangan terhadap
sampah jenis organik yang dapat merusak keindahan kota atau suatu tempat
dan menimbulkan bau.Dengan demikian keindahan dan kenyamanan tetap
terjaga.
-
Produk hasil pengomposan bermanfaat bagi tanah dan tanaman, sebab dapat:
·
Menyuburkan tanah dan tanaman
·
Memperbaiki struktur dan
karakteristik tanah
·
Meningkatkan kapasitas jerap air
tanah
·
Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
·
Meningkatkan kualitas hasil panen
(rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
·
Menyediakan hormon dan vitamin bagi
tanaman
·
Menekan pertumbuhan atau serangan
penyakit tanaman
·
Meningkatkan retensi atau
ketersediaan hara di dalam tanah
- Pengomposan berpotensi mengurangi
pencemaran lingkungan, karena jumlah sampah yang dibakar atau dibuang ke sungai
menjadi berkurang. Selain itu aplikasi kompos pada lahan pertanian berarti
mencegah pencemaran karena berkurangnya kebutuhan pemakaian pupuk buatan dan
obat-obatan yang berlebihan.
- Membantu melestarikan sumber daya
alam karena pemakaian kompos pada perkebunan akan meningkatkan kemampuan lahan
kebun dalam menahan sebagai media tanaman dapat digantikan oleh kompos,
sehingga eksploatasi humus hutan dapat dicegah.
c.
Manfaat kesehatan
Dengan pengomposan, panas yang dihasilkan mencapai 60OC, sehingga
dapat membunuh organisme pathogen penyebab penyakit yang terdapat dalam sampah.
d.
Manfaat dari segi sosial kemasyarakatan
Pengomposan dapat meningkatkan peranserta masyarakat dalam
pengelolaan sampah.
2.3
Prinsip Pengomposan
Pada dasarnya proses pengomposan adalah suatu proses
biologis. Hal ini berarti bahwa peran mikroorganisme pengurai sangat besar.
(Tchobanoglous et al.1993).
Prinsip-prinsip proses biologis yang terjadi pada proses
pengomposan
meliputi:
a. Kebutuhan Nutrisi
Untuk perkembangbiakan dan pertumbuhannya, mikroorganisme
memerlukan sumber energi, yaitu karbon untuk proses sintesa jaringan baru dan
elemen-elemen anorganik seperti nitrogen, fosfor, kapur, belerang dan magnesium
sebagai bahan makanan untuk membentuk sel-sel tubuhnya. Selain itu, untukmemacu
pertumbuhannya, mikroorganisme juga memerlukan nutrien organik yang tidak dapat
disintesa dari sumber-sumber karbon lain. Nutrien organik tersebut antara lain
asam amino, purin/pirimidin, dan vitamin.
b.
Mikroorganisme
Mikroorganisme pengurai dapat dibedakan antara lain
berdasarkan kepada struktur dan fungsi sel, yaitu:
1. Eucaryotes, termasuk dalam dekomposer adalah eucaryotes
bersel tunggal, antara lain: ganggang, jamur, protozoa.
2. Eubacteria, bersel tunggal dan tidak mempunyai membran
inti, contoh: bakteri. Beberapa hewan invertebrata (tidak bertulang belakang)
seperti cacing tanah, kutu juga berperan dalam pengurai sampah. Sesuai dengan
peranannya dalam rantai makanan, mikroorganisme pengurai dapat dibagi menjadi 3
(tiga)kelompok, yaitu :
a. Kelompok I (Konsumen tingkat I) yang mengkonsumsi
langsung bahan organik dalam sampah, yaitu : jamur, bakteri, actinomycetes.
b.
Kelompok II (Konsumen tingkat II) mengkonsumsi jasad kelompok I, dan;
c. Kelompok III (Konsumen tingkat III), akan
mengkonsumsi jasad kelompok I dan Kelompok I. Kondisi Lingkungan Ideal
Efektivitas proses pembuatan kompos sangat tergantung kepada mikroorganisme
pengurai.
Apabila mereka hidup dalam lingkungan yang ideal, maka
mereka akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula. Kondisi lingkungan yang
ideal mencakup :
1.
Keseimbangan Nutrien (Rasio C/N).
Parameter nutrien yang paling penting dalam proses pembuatan kompos adalah
unsur karbon dan nitrogen. Dalam proses pengurai terjadi reaksi antara karbon
dan oksigen sehingga menimbulkan panas (CO2). Nitrogen akan ditangkap oleh
mikroorganisme sebagai sumber makanan. Apabila mikroorganisme tersebut mati,
maka nitrogen akan tetap tinggal dalam kompos sebagai sumber nutrisi bagi
makanan. Besarnya perbandingan antara unsur karbon dengan nitrogen tergantung
pada jenis sampah sebagai bahan baku. Perbandingan C dan N yang ideal dalam
proses pengomposan yang optimum berkisar antara 20 : 1 sampai dengan 40 : 1,
dengan rasio terbaik adalah 30 : 1.
2.
Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) ideal dalam proses pembuatan kompos
secara aerobik berkisar pada pH netral (6 – 8,5), sesuai dengan pH yang
dibutuhkan tanaman. Pada proses awal, sejumlah mikroorganisme akan mengubah
sampah organik menjadi asam-asam organik, sehingga derajat keasaman akan selalu
menurun. Pada proses selanjutnya derajat keasaman akan meningkat secara
bertahap yaitu pada masa pematangan, karena beberapa jenis mikroorganisme
memakan asam-asam organik yang terbentuk tersebut.
Derajat
keasaman dapat menjadi faktor penghambat dalam proses pembuatan kompos, yaitu
dapat terjadi apabila :
§ pH
terlalu tinggi (di atas 8) , unsur N akan menguap menjadi NH3. NH3 yang
terbentuk akan sangat mengganggu proses karena bau yang menyengat. Senyawa ini
dalam kadar yang berlebihan dapat memusnahkan mikroorganisme.
§ pH
terlalu rendah (di bawah 6), kondisi menjadi asam dan dapat menyebabkan
kematian jasad renik.
3. Suhu (Temperatur)
Proses biokimia dalam proses pengomposan menghasilkan panas
yang sangat penting bagi mengoptimumkan laju penguraian dan dalam menghasilkan
produk yang secara mikroorganisme aman digunakan. Pola perubahan temperature
dalam tumpukan sampah bervariasi sesuai dengan tipe dan jenis mikroorganisme.
a) Pada awal pengomposan, temperatur mesofilik, yaitu
antara 25 – 45 C akan terjadi dan segera diikuti oleh temperatur termofilik
antara 50 - 65 C. Temperatur termofilik dapat berfungsi untuk : a) mematikan
bakteri/bibit penyakit baik patogen maupun bibit vector penyakit seperti lalat;
b) mematikan bibit gulma. Tabel 1 menunjukkan suhu dan waktu
yang dibutuhkan untuk mematikan beberapa organisme patogen dan parasit. Kondisi
termofilik, kemudian berangsur-angsur akan menurun mendekati tingkat ambien.
4. Ukuran Partikel Sampah
Ukuran partikel sampah yang
digunakan sebagai bahan baku pembuatan kompos harus sekecil mungkin untuk
mencapai efisiensi aerasi dan supaya lebih mudah dicerna atau diuraikan oleh
mikroorganisme. Semakin kecil partikel, semakin luas permukaan yang dicerna
sehingga pengurai dapat berlangsung dengan cepat.
5. Kelembaban Udara
Kandungan kelembaban udara optimum sangat
diperlukan dalam proses pengomposan. Kisaran kelembaban yang ideal adalah 40 –
60 % dengan nilai yang paling baik adalah 50 %. Kelembaban yang optimum harus
terus dijaga untuk memperoleh jumlah mikroorganisme yang maksimal sehingga
prosespengomposan dapat berjalan dengan cepat. Apabila kondisi tumpukan terlalu
lembab, tentu dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme karena molekul air
akan mengisi rongga udara sehingga terjadi kondisi anaerobik yang akan
menimbulkan bau. Bila tumpukan terlalu kering (kelembaban kurang dari 40%),
dapat mengakibatkan berkurangnya populasi mikroorganisme pengurai karena
terbatasnya habitat yang ada.
6. Homogenitas Campuran Sampah
Komponen sampah organik sebagai bahan baku
pembuatan kompos perlu dicampur menjadi homogen atau seragam jenisnya, sehingga
diperoleh pemerataan oksigen dan kelembaban. Oleh karena itu kecepatan pengurai
di setiap tumpukan akan berlangsung secara seragam.
2.5
Jenis dan Cara Membuat Kompos
Kompos dari Sampah Organik Pasar atau Domestik Sampah
organik pasar atau domestik dapat diolah menjadi kompos dengan beberapa
metode, diantaranya :
Metode
Konvensional
Metode ini tidak menggunakan komposter. Biasanya adonan
kompos ditimbun dan ditutup dengan kain terpal. Selain kain terpal dapat
digunakan pula karung goni atau sabut kelapa yang dimasukkan dalam kantung dari
jaring plastik. Salah satu contohnya adalah seperti yang tercantum di bawah ini
:
1.
Alat-alat yang dibutuhkan Peralatan antara lain: parang/sabit, ember/bak
plastik untuk menampung air, ember untuk menyiram, plastik penutup, tali, sekop
garpu/cangkul, dan cetakan kompos (jika diperlukan). Plastik penutup dapat
menggunakan plastik mulsa yang berwarna hitam. Belah plastik tersebut sehingga
lebarnya menjadi 2 m. Panjang plastik disesuaikan dengan banyaknya bahan yang
akan dikomposkan. Cetakan kompos dapat dibuat dari bambu atau kayu. Cetakan ini
terdiri dari 4 bagian terpisah, dua bagian berukuran kurang lebih 2 x 1 m dan
dua lainnya berukuran 1 x 1 m.
2. Bahan
a. Sampah
organik domestik
Sampah ini dapat berupa sampah rumah tangga dan sampah taman. Sampah tersebut
harus dipisahkan dari sampah plastik, logam, kaca, dll. Sebaiknya sampah
organik tersebut adalah campuran antara sampah yang memiliki kandungan C dengan
kandungan N.
b.
Aktivator Pengomposan
Aktivator yang digunakan adalah PROMI. Jika aktivator pengomposan sulit
diperoleh dapat menggunakan kotoran ternak atau rumen sapi untuk mempercepat
proses pengomposan.
c.
Air
3. Lokasi
Pengomposan
Pengomposan sebaiknya dilakukan di
dekat kebun yang akan diaplikasi kompos atau di dekat sumber bahan baku yang
akan dibuat kompos. Pemilihan lokasi ini akan menghemat biaya transportasi dan
biaya tenaga kerja. Lokasi juga dipilih dekat dengan sumber air. Karena apabila
jauh dengan sumber air akan menyulitkan proses pengomposan.
4. Tahapan
Pengomposan
a.
Memperkecil ukuran bahan. Untuk memperkecil ukuran bahan dapat dilakukan dengan
menggunakan parang atau dengan mesin pencacah.
b.
Menyiapkan aktivator pengomposan. Aktivator (Orgadec atau Promi) dilarutkan ke
dalam air sesuai dosis yang dibutuhkan.
c.
Pemasangan cetakan.
d.
Memasukkan bahan ke dalam cetakan selapis demi selapis. Tinggi lapisan kurang
lebih seperlima dari tinggi cetakan. Injak-injak bahan tersebut agar memadat
sambil disiram dengan aktivator pengomposan.
e. Dalam
setiap lapisan siramkan aktivator pengomposan. Setelah cetakan penuh, buka
cetakan dan tutup tumpukan kulit buah kakao dengan plastik.
Metode
komposter
Metode komposter dengan penambahan bakteri (aktivator)
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan. 60%- 70% sampah yang
dihasilkan adalah sampah organik/sampah basah (sampah rumah tangga, sampah
dapur, sampah kebun, sampah restoran/sisa makanan, sampah pasar dll). Salah
satu solusi yang cukup tapat untuk menangani masalah sampah organik adalah
dengan menjadikannya kompos melalui suatu alat yang disebut komposter.
Pengomposan dengan teknologi komposter adalah proses penguraian sampah organik
secara aerob dengan mengunakan Sy-Dec mikroba pengurai dan Organik Agent (bahan
mineral organik).
Metode pembuatan kompos dengan Reaktor Kompos (Komposter)
sederhana Sebenarnya reaktor ini bisa dibuat dari apa saja. Salah satu
contohnya adalah terbuat dari drum PVC. Hal yang paling penting untuk
diperhatikan adalah, reaktor ini harus memiliki sistem ventilasi yang bagus.
Reaksi pengkomposan adalah memang jenis reaksi yang memerlukan udara. Jika
reaktor ini tidak memiliki sistem ventilasi yang baik, proses pembusukan yang
terjadi juga akan menghasilkan bau busuk akibat dari pembentukan amoniak dan
H2S.
III.
PELAKSANAAN
PRAKTIKUM
A. WAKTU DAN TEMPAT
Praktikum
pembuatan kompos ini dilaksanakan pada hari Sabtu, Mei 2013. Dan dilaksanakan di AgroTechno Park
(ATP), Gelumbang.
B. ALAT DAN BAHAN
Alat :
1.
Cangkul
2.
Ember
3.
Karung
4.
Plastic mulsa
Bahan :
1.
Air
2.
EM 4
3.
Jenggel ( tongkol jagung )
4.
Kapur
5.
Kotoran sapi
C. CARA KERJA
1.
Siapkan alat dan bahan yang akan
digunakan
2.
Pada lapisan 1 yang berada dibawah,
letakkan kotoran sapi dengan panjang 3 m dan lebar 1 m dengan tinggi 0,5 m
3.
Beri tongkol jagung diatasnya setinggi
15 cm
4.
Taburkan kapur diatas tumpukan tersebut,
lalu siram dengan menggunakan larutan EM4.
5.
Lakukan lagi seperti lapisan pertama
hingga mendapatkan 3 lapis atau 3 tumpukan.
6.
Setelah itu tutup dengan menggunakan
plastic mulsa.
7.
Lalu setiap seminggu sekali dilakukan
pembalikan sampai 1 bulan lamanya hingga tidak menimbulkan bau lagi dan suhunya
sudah turun.
8.
Kompos siap di gunakan.
IV.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
HASIL
|
Minggu
|
Warna
|
Bau
|
Kondisi kompos
|
|
1
|
coklat
|
Tidak sedap
|
Kasar, teksur asal
|
|
2
|
Coklat kehitaman
|
Tidak sedap
|
Masih terlihat wujud asalnya
|
|
3
|
hitam
|
Tidak bau
|
Tekstur berubah
|
|
4
|
hitam seperti tanah
|
Tidak bau
|
Tekstur berubah seperti tanah
|
B. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil dari
pengamatan praktikum pembuatan pupuk ini dapat dikatakan bahwa setiap minggunya
kompos yang buat telah mengalami perubahan baik perubahan wujud maupun bau yang
di timbulkan dari kompos tersebut. Dalam melakukan pengomposon yang
baik dan cepat diperlukan teknologi mempercepat pengomposan seperti menambah
mikroba untuk menguraikan menjadi kompos sempurna. Dalam pembuatan kompos dari
pupuk kandang dan asystasia hanya membutuhkan waktu 10-15 hari untuk menjadi
kompos.
Akan tetapi tidak bisa terdekomposer cepat
begitu saja tanpa input dari luar, seperti bantuan mikroba. Maka untuk
mempercepat penguraian maka ditambahkan Mikroorganisme Efektif (EM) merupakan
kultur campuran berbagai jenis mikroorganisme yang bermanfaat (bakteri
fotosintetik, bakteri asam laktat, ragi, aktinomisetes dan jamur peragian) yang
dapat dimanfaatkan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman mikroba tanah.
Rock pospat meningkatkan ketersediaan nutrisi dan senyawa organik pada tanaman,
meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang menguntungkan.
Pembuatan kompos adalah menumpukkan
bahan-bahan organik dan membiarkannya terurai menjadi bahan-bahan yang
mempunyai nisbah C/N yang rendah (telah melapuk) (Hasibuan, 2006).
Bahan-bahan yang mempunyai C/N sama
atau mendekati C/N tanah, dapat langsung digunakan sebagai pupuk, tetapi bila
C/N nya tinggi harus didekomposisikan dulu sehingga melapuk dengan C/N rendah
yakni 10-12 (Rinsemo, 1993).
Dari
sifat-sifat fisik yang dapat diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut :
1.
Warna tanah
Warna tanah yang diperoleh dari
hasil pengomposan berwarna hitam keckolatan. Warna dapat berubah karena hasil
kombinasi dari pupuk kandang sapi dengan daun asystasia yang dicampurkan.
2.
Konsistensi
tanah
Konsistensi tanah menunjukkan daya
kohesi butir-buitr tanah atau daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain.
Tanah yang terdapat pada hasil kompos tanah tidak lekat artinya tanah tidak
melekat pada jari tangan atau benda lain. Tanah tidak plastis artinya tanah
tidak dapat membentuk gulungan. Tanah sangat gembur artinya gumpalan tanah
mudah sekali hancur bila diremas. Tanah Lunak artinya gumpalan tanah mudah
hancur bila diremas. Sementasi tanah lemah artinya tanah dapat dihancurkan
dengan tangan.
3.
Tekstur
tanah
Tekstur tanah dari hasil pengomposan
lempung berpasir artinya rasa kasar agak jelas, agak melekat, dapat dibuat
bola, dan mudah hancur. Tanah-tanah yang bertekstur pasir, karena butirannya
lebih besar maka setiap satuan berat luas permukaan lebih kecil sehingga
menyerap air dan unsur hara. Tanah berteksur liat, karena lebih halus maka setiap
satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan
menahan air dan unsur hara tinnggi. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam
reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar.
4.
Bau tanah
Bau tanah dari hasil pengomposan
tidak berbau. Hal ini karena proses penguraian telah terurai sempurna oleh
mikrba. Dan dengan pemberian EM4 bahwa EM dapat menekan pertumbuhan
mikroorganisme patogen atau yang merugikan tanah dan tanaman sekaligus
menghilangkan bau yang ditimbulkan dari proses penguraian bahan organik,
meningkatkan ketersediaan nutrisi dan senyawa organik pada tanaman.
5.
Struktur
tanah
Tanah yang diperoleh dari hasil
pengomposan, yaitu remah dan poros. Tanah dengan struktur baik (granuler,
remah) mempunyai tata udara yang baik. Struktur tanah yang baik adalah yang
bentuknya membulat sehingga tidak dapat saling bersinggungan dengan rapat.
Akibatnya pori-pori tanah banyak terbentuk. Disamping itu struktur tanah harus tidak mudah rusak sehingga
pori-pori tanah tidak cepat tertutup bila terjadi hujan.
V.
KESIMPULAN
DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Kompos yang
dibuat membutuhkan waktu hanya 10-15 hari karena dengan bantuan EM4, Rock Pospat.
2. Keunggulan
kompos yang diperoleh tanah tidak berbau dan organik.
3. Kompos
sangat bermanfaat bagi tanaman. Disamping itu kompos juga bermanfaat bagi tanah
karena dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan tanah yang miskin akan unsur
hara.
4. Kandungan
unsur hara N kompos yang dibuat dari pupuk kandang sapi, masih dalam kadar rendah.
Dengan penambahan Asystasia, maka kandungan unsur hara N meningkat.
5. Dalam
melakukan pengomposon yang baik dan cepat diperlukan teknologi mempercepat
pengomposan seperti menambah mikroba untuk menguraikan menjadi kompos sempurna.
B. SARAN
Diharapkan praktikum
ini berjalan lebih baik lagi dari praktikum saat ini. Dan para praktikan yang
menjalani kegiatan ini diharapkan melakuaknnya dengan serius. Sehingga,
pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami dan dimengerti dan berguna.
DAFTAR
PUSTAKA
Arik,
2007, Sapi-sapi penyelamat dari Putri Cempo, Publikasikan oleh Majalah Kabari
Dahuri,
Deri, 2004, Sampah Organik, Kotoran Kerbau Sumber Energi Alternatif, Sumber
Media Indonesia, energi – http://www.energi.lipi.go.id
Hardjowigeno,
sarwono. 2010. Ilmu tanah. Jakarta: Akademika Pressindo.
LAMPIRAN



Komentar
Posting Komentar