laporan penetapan tekstur tanah di laboratorium
LAPORAN
TETAP
ANALISIS
TANAH, AIR DAN TANAMAN
TEKSTUR
HIDROMETER

SARAH DWI
YUSTIANI
05111007112
PROGRAM
STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SRIWIJAYA
INDRALAYA
2014
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Tanah merupakan
elemen dasar yang tidak terpisahkan dalam dunia pertanian. Tanpa adanya tanah
mustahil kita bisa menanam padi, palawija, sayuran, buah-buahan maupun
kehutanan meskipun saat ini telah banyak dikembangkan sistim bercocok tanam
tanpa tanah, misalnya Hidroponik, Airoponik dan lain-lain, tetapi apabila usaha
budidaya tanaman dalam skala luas masih lebih ekonomis dan efisien menggunakan
media tanah.
Mengingat
pentingnya peranan tanah dalam usahatani, maka pengelolaan tanah untuk
usahatani haruslah dilakukan sebaik mungkin guna menjaga kesuburan tanahnya.
Tanah yang memenuhi syarat agar pertumbuhan tanaman bisa optimal tentulah harus
memiliki kandungan unsur hara yang cukup,mengandung banyak bahan organik yang
menguntungkan.
Tanah memiliki
sifat fisik yang berpengaruh terhadap kesuburan tanah. Salah satu sifat fisik
tanah yaitu tekstur tanah. Tekstur tanah merupakan perbandingan relatif fraksi
pasir, debu, dan liat. Tekstur
tanah menggambarkan ukuran kasar atau halusnya tanah. Dalam menetapkan tekstur tanah ada tiga metode yang digunakan yaitu
metode feeling, pipet, dan hydrometer.
Tanah
merupakan suatu sistem lapisan kerak bumi yang tidak padu dengan ketebalan
beragam berbeda dengan bahan-bahan di bawahnya, yang juga tidak baku dalam hal
warna, bangunan fisik, struktur, susunan kimiawi, sifat biologi, proses kimia,
ataupun reaksi-reaksi.
Tektur tanah merupakan salah satu sifat tanah
yang menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah yang dinyatakan sebagai
perbandingan proposi tanah fraksi pasir, debu dan liat. Tektur tanah sangat
menentukan tingkat pertumbuhan tanaman dan penyerapan air serta mineral.
Tekstur tanah
berpengaruh terhadap ketersediaan air yang ada di dalam tanah, semakin besar
maka akan semakin porus. Semakin akar akan mudah melakukan penetrasi. Untuk
mengetahui peranan tekstur tanah bagi ketersediaan air, untuk hara dan
pertumbuhan tanaman, maka pentingnya dilakukan pengamatan tekstur tanah ini.
Sehingga jika kita bisa memahami dan mengetahui berbagai macam tekstur tanah
itu sendiri, sehingga akan menjadi optimal (Praharyanto, 2012).
Keadaan tekstur
tanah sangat berpengaruh terhadap keadaan sifat-sifat tanah yang lain seperti
struktur tanah, permeabilitas tanah, porositas dan lain-lain. Tekstur tanah
juga sangat berpengaruh bagi kesuburan tanah.
Kesuburan tanah
ditentukan oleh tekstur tanah yang memiliki komposisi faraksi yang ideal.
Dengan demikian, tanah yang subur akan berpengaruh banyak terhadap pertumbuhan
dan kesuburan tanaman karena tekstur menentukan cepat lambatnya air meresap
(daya serap air) ke dalam pori-pori tanah, besarnya aerasi, infiltrasi,
perlokasi, ketersediaan udara dan unsur hara untuk respirasi tanaman dan dapat
mempengaruhi sistem perakaran tanaman. Tekstur juga bisa digunakan sebagai kriteria dalam klasifikasi
tanah maupun kesesuaian lahan.
Sifat fisik tanah
ditentukan oleh permukaan butiran tanah, sifat-sifat kimia dari butiran dan
kandungan bahan organik. Butiran-butiran yang menyusun tanah mempunyai
ukuran yang berbeda-beda. Perbedaan ukuran dan jumlah butiran tersebut
sangat mempengaruhi tekstur tanah.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu untuk mengetahui
gambaran mengenai tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman dan kesuburan dari tanah, maka diperlukan adanya pengetahuan
tentang tekstur tanah.dimana
tektur tanah telah diketahui memiliki tiga perbandingan fraksi. Sehingga,
pengukuran tekstur tanah di laboratorium ini lah yang dapat memberikan secara
jelas perbandingan dari ketiga fraksi tersebut.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara yang tepat
dalam pengukuran tekstur dengan metose hidrometer di laboratorium dan untuk
mengetahui perbandingan dari ketiga fraksi tanah yaitu pasir, debu dan liat.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Winarso, (2005) Tanah
adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak dipermukaan
sampai kedalaman tertentu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor genetis dan
lingkungan, yakni bahan induk, iklim, organisme hidup (mikro dan makro),
topografi, dan waktu yang berjalan selama kurun waktu yang sangat panjang, yang
dapat dibedakan dari cirri-ciri bahan induk asalnya baik secara fisik kimia,
biologi, maupun morfologinya.
Tanah merupakan suatu sistem mekanik yang kompleks terdiri
dari tiga fase yakni bahan-bahan padat, cair dan gas. Fase padat hampir
menempati 50 % volume tanah sebagian besar terdiri dari bahan mineral dan
sebagian lainnya adalah bahan organik. Sisa volume selebihnya merupakan ruang
pori yang ditempati sebagian oleh fase cair dan fase gas yang perbandingannya
dapat bervariasi menurut musim dan pengelolaan tanah.
Tekstur merupakan sifat
kasar-halusnya tanah dalam percobaan yang ditentukan oleh perbandingan
banyaknya zarah-zarah tunggal tanah dari berbagai kelompok ukuran, terutama
perbandingan antara fraksi-fraksi lempung, debu, dan pasir berukuran 2 mm ke
bawah (Notohadiprawito, 1978).
Tanah terdiri dari butir-butir yang
berbeda dalam ukuran dan bentuk, sehingga diperlukan istilah-istilah khusus
yang memberikan ide tentang sifat teksturnya dan akan memberikan petunjuk
tentang sifat fisiknya. Untuk ini digunakan nama kelas seperti pasir, debu,
liat dan lempung. Nama kelas dan klasifikasinya ini, merupakan hasil riset
bertahun-tahun dan lambat laun digunakan sebagai patokan. Tiga golongan pokok
tanah yang kini umum dikenal adalah pasir, liat dan lempung(Buckmandan
Brady, 1992).
Tekstur tanah adalah
pembagian ukuran butir tanah. Butir-butir yang paling kecil adalah butir liat,
diikuti oleh butir debu (silt), pasir, dan kerikil. Selain itu, ada juga tanah yang
terdiri dari batu-batu. Tekstur tanah dikatakan baik apabila komposisi antara
pasir, debu dan litany hampir seimbang. Tanah seperti ini disebut tanah
lempung. Semakin halus butir-butir tanah (semakin banyak butir liatnya), maka
semakin kuat tanah tersebut memegang air dan unsur hara. Tanah yang kandungan
liatnya terlalu tinggi akan sulit diolah, apalagi bila tanah tersebut basah
maka akan menjadi lengket. Tanah jenis ini akan sulit melewatkan air sehingga
bila tanahnya datar akan cenderung tergenang dan pada tanah berlereng erosinya
akan tinggi. Tanah dengan butir-butir yang terlalu kasar (pasir) tidak dapat
menahan air dan unsur hara. Dengan demikian tanaman yang tumbuh pada tanah
jenis ini mudah mengalami kekeringan dan kekurangan hara (Rahman, 2000).
Tekstur
tanah adalah perbandingan berat nisbi fraksi pasir, debu, dan liat. Suatu kelas
tekstur mempunyai batas susunan tertentu dari fraksi pasir, debu, dan
liat.Pembagian kelas tekstur tanah menurut USDA dibagi
kedalam 12 tekstur. Pembagian ini
didasrkan banyaknya susunan fraksi tanah. (Yulius dkk, 2001).
Tanah-tanah yang bertekstur pasir, karena
butiran-butirannya berukuran lebih besar, maka setiap satuan berat (misalnya
setiap gram) mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap
(menahan) air dan unsur hara. Tanah-tanah bertekstur liat, karena lebih halus
maka setiap satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga
kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus
lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar (Hardjowigeno,
2002).
Telah diketahui bahwa pasir dan debu
berasal dari pecahnya butir-butir mineral tanah yang ukurannya berbeda-beda
dari satu jenis tanah dengan jenis tanah yang lain. Luas permukaan debu jauh
lebih besar dari luas permukaan pasir per gram. Tingkat pelapukan debu dan
pembebasan unsur-unsur hara untuk diserap akar lebih besar daripada pasir.
Partikel-partikel debu
terasa licin sebagai tepung dan kurang melekat. Sedangkan tanah-tanah yang
mengandung debu yang tinggi dapat memegang air tersedia untuk tanaman. Fraksi
liat pada kebanyakan tanah terdiri dari mineral-mineral yang berbeda-beda
komposisi kimianya dan sifat-sifat lainnya dibandingkan dengan pasir dan debu
(Hakim, 1986).
Karakteristik tekstur tanah terdiri
atas fraksi pasir, fraksi debu dan fraksi liat. Suatu tanah disebut bertekstur
pasir apabila mengandung minimal 85 % pasir, bertekstur debu apabila berkadar
minimal 80 % debu dan bertekstur liat apabila berkadar minimal 40 % liat
(Hanafiah, 2008).
Berdasarkan kelas teksturnya maka
tanah dapat digolongkan menjadi tanah bertekstur kasar atau tanah berpasir
berarti tanah yang mengandung minimal 70 % pasir atau pasir berlempung (Nyakpa,
1989).
Pembagian kelas tektur
yang banyak dikenal adalah pembagian 12 kelas tekstur menurut USDA.Nama kelas
tekstur melukiskan penyebaran butiran, plastisitas, keteguhan, permeabilitas
kemudian pengolahan tanah, kekeringan, penyediaan hara tanah dan produktivitas
berkaitan dengan kelas tekstur dalam suatu wilayah geogtrafis (A.K. Pairunan,
dkk, 1985).
Tekstur tanah diartikan sebagai proporsi
pasir, debu dan liat. Partikel ukuran lebih dari 2 mm, bahan organik dan
agen perekat seperti kalsium karbonate harus dihilangkan sebelum
menentukan tekstur. Tanah bertekstur sama misal geluh berdebu
mempunyai sifat fisika dan kimia yang hampir sama dengan syarat mineralogi liat
.
Tekstur tanah ditentukan di lapangan
dengan cara melihat gejala konsistensi dan rasa perabaan menurut bagan alir dan
di laboratorium dengan metode pipet atau metode hydrometer. Tekstur tanah
menentukan tata air, tata udara, kemudahan pengolahan dan struktur tanah Sifat kimia, fisika
dan mineralogi partikel tanah tergantung pada ukuran partikelnya. Semakin kecil
ukuran partikel maka luas permukaannya semakin besar. Jadi, luas permukaan
fraksi liat > fraksi debu > fraksi pasir.
Tanah memiliki beberapa ukuran
fraksi tanah Menurut Sistem Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), yaitu:
·
Pasir sangat
kasar (Very coarse sand) dengan diameter 2,00 – 1,00 mm
·
Pasir kasar
(Coarse sand), diameter fraksi 1,00 – 0,50 mm
·
Pasir sedang
(medium sand), diameter fraksi 0,50 – 0,25 mm
·
Pasir halus
(fine sand),diameter fraksi 0,25 – 0,10 mm
·
Pasir sangat
halus (very fine sand),diameter fraksi 0,10 – 0,05 mm
·
Debu (silt),
diameter fraksi 0,05 – 0,002 mm
·
Liat (Clay),
diameter fraksi Kurang dari 0,002 mm
III.
PELAKSANAAN
PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum pengukuran tekstur tanah
dengan metode hidrometer ini di laksanakan pada tanggal 6 Oktober 2014. Dimana dilaksanakan
di Laboratorium Kimia tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Indralaya.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam
praktikum ini adalah 1) timbangan dua decimal, 2) cawan plastik 1 L, 3) mesin
pengoocok, 4) gelas ukur 10 ml, 5) tabung silinder 1 liter, 6) labu ukur 1
liter, 7) alat pengaduk, 8) thermometer, 9) hidrometer, 10) stopwatch, dan 11) sprayer.
Adapun bahan yang digunakan dalam
praktikum ini adalah 1) aquades, dan 2) calgon.
C. Cara Kerja
Adapun cara kerja dalam pengukuran
tekstur dengan hidrometer adalah sebagai berikut:
1.
Timbang 50 g tanah kering udara lalu
di masukkan kedalam cawan plastik. Kemudian tambah air suling sebanyak 500 ml.
2.
Tambah 10 ml calgon kedalam cawan
contoh.
3.
Kemudian kocok selama 30 menit
dengan mesin pengocok.
4.
Lalu pindahkan ke dalam tabung
silinder daan bilas dengan sprayer yang berisi aquades.
5.
Setelah itu, tambahkan air sampai
volumenya 1130 ml setelah dimasukkan hidrometer
6.
Lalu di kocok sebanyak 20 kali
dengan alatpengocok, lalu masukkan hidrometer kemudian baca pembacaan 40 detik,
lalu diamkan. Kemudian baca lagi pada saat 4 menit, terakhir baca pada saat 120
menit. Catat temperaturnya juga.
IV.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A.
Hasil
% pasir =
[ W – {R1 + ( T1 – 200) x 0,36}]
x 2
% liat =
{ R2 + ( T2 – 200) x 0,36 } x 2
% debu =
100 % - ( % pasir + % liat)
Ket:
R1 = pembacaan pertama
R2 = pembacaan kedua
T1 = temperatur
W = berat tanah
Jadi,
R1 = 6
R2 = 2
% pasir =
[ W – {R1 + ( T1 – 200) x 0,36}]
x 2
=
[ 50 – { 6 + ( 27 – 20 ) x 0,36 }] x 2
=
[ 50 – { 6 + 7 x 0,36 }] x 2
=
[ 50 – { 6 + 2,52 }] x 2
=[50
– 8,52 ] x 2
=
41,48 x 2
=
82,96 %
% liat =
{ R2 + ( T2 – 200) x 0,36 } x 2
=
{ 2 + ( 27 – 20 ) x 0,36 } x 2
=
{ 2 + 7 x 0,36 } x 2
= { 2 + 2,52 } x 2
=
4,52 x 2
=
9,04 %
% debu =
100 % - ( % pasir + % liat)
=
100 % - ( 82,96 % + 9,04 % )
=
100 % - 92 %
=
8 %
B. Pembahasan
Dari
hasil praktikum penetapan tekstur dengan metode hidrometer yang telah di
lakukan di laboraturium di dapatkanlah nilai dari perbandingan antara ketiga
fraksi tanah yaitu pasir, debu dan liat. Persentasi pasir pada tanah yang di
analisis adalah 82,96 %. Sedangkan persentasi liat adalah 9,04 % dan
persentasi debu adalah 8 %.
Dilihat dari hasil yang telah di
peroleh persentasi pasir pada tanah yang dianalisis lebih besar dibandingkan
dengan persentase liat dan debu. Sehingga setelah di lihat pada segitiga
tekstur maka dapat di simpulkan bahwa tanah ini merupakan tanah yang teksturnya
lempung berpasir.
Tekstur
tanah menunjukkan kasar atau halusnya suatu tanah. Teristimewa tekstur
merupakan perbandingan relatif pasir, debu dan liat atau kelompok partikel
dengan ukuran lebih kecil dari kerikil (diameternya kurang dari 2 milimeter).
Pada beberapa tanah, kerikil, batu dan batuan induk dari lapisan-lapisan tanah
yang ada juga mempengaruhi tekstur dan mempengaruhi penggunaan tanah.
Tanah yang didominasi
pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro, tanah yang didominasi debu akan
mempunyai pori-pori meso (sedang), sedangkan didominasi liat akan banyak
mempunyai pori-pori mikro. Hal ini berbanding terbalik dengan luas permukaan
yang terbentuk, luas permukaan mencerminkan luas situs yang dapat bersentuhan
dengan air, energi atau bahan lain, sehingga makin dominan fraksi pasir akan
makin kecil daya tahannya untuk menahan tanah (Hakim, 1986).
Makin poreus tanah akan
makin mudah akar untuk berpenetrasi, serta makin mudah air dan udara untuk
bersirkulasi tetapi makin mudah pula air untuk hilang dari tanah dan
sebaliknya, makin tidak poreus tanah akan makin sulit akar untuk berpenetrasi
serta makin sulit air dan udara untuk bersirkulasi. Oleh karena itu, maka tanah
yang baik dicerminkan oleh komposisi ideal dari kedua kondisi ini, sehingga
tanah bertekstur debu dan lempung akan mempunyai ketersediaan yang optimum bagi
tanaman, namun dari segi nutrisi tanah lempung lebih baik ketimbang tanah
bertekstur debu (Nyakpa, 1989).
V.
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat di ambil
dari praktikum penetapan tekstur dengan metode hidrometer adalah sebagai
berikut:
1.
Persentasi
pasir pada tanah yang di analisis adalah 82,96 %. Sedangkan persentasi liat
adalah 9,04 % dan persentasi debu adalah 8 %.
2.
tanah ini merupakan tanah yang
teksturnya lempung berpasir.
3.
Dari hasil pengukuran
tekstur tersebut di dapatlah bahwa fraksi pasir lebih mendominasi pada tanah
tersebut di bandingkan dengan liat dan debu.
4.
Makin banyak kandungan
pasir pada tanah tersebut maka pori tanh pada tanah tersebut juga makin banyak.
5.
Makin poreus tanah akan
makin mudah akar untuk berpenetrasi, serta makin mudah air dan udara untuk
bersirkulasi.
B.
Saran
Ada
baiknya praktikan mengikuti praktikum ini dengan serius sehingga apa yang di ajarkan
dapat mudah di pahami dan di mengerti.
DAFTAR
PUSTAKA
Buckman, H.O. dan N.C. Brandy, 1982. Ilmu Tanah. Brata Karya Aksara, Jakarta.
Darmawijaya, Isa. 1997.Klasifikasi Tanah. Yogyakarta; gajah mada
university press.
Foth, H.D., 1984. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.. Edisi
VI. Erlangga, Jakarta.
Foth, H.D.dan L.N.Turk, 1999, Fundamentals Of Soil Science, Fifth Ed. John Waley & sons,
New York
Hadjowigwno, S., 1987. Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.
Hakim, N. M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S. Ghani,
Nugroho, M. R. Soul, M. A. Diha, G. B. Hong, N. H. Balley. 1986. Dasar-Dasar Ilmu
Tanah. Universitas Lampung. Lampung.
Hakim, N. M. Y. Nyakta., A. M. Lubis, S. G. Nugroho,
M. R. Saul, M. A. Diha, G. B. Hong, H. H. Bayle. 1982. Dasar-dasar Ilmu tanah. Penerbit Universitas lampung, Lampung
Hanafiah, Ali Kemas. 2005. Dasar-dasar Ilmu
Tanah. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Hanafiah, Kemas Ali. 2007.
Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Baja Grafindo Persada.
Handayani, S., dan Sunarmianto. 2002. Kajian Struktur Tanah Lapis Olah. Jurnal Ilmu
Tanah dan Lingkungan Vol 3 (1) (2002) pp 10-17.
Hardjowigeno, Sarwono. 1987. Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa:Jakarta.
Sutanto, Rachman. 2009. Dasar-Dasar
Ilmu Tanah. Konsep dan Kenyataan.
Syahwal, Indra. 2007. Ilmu Tanah.
Erlangga. Jakarta.
LAMPIRAN

sampel tanah yang
akan di lakukan pengukuran teksturnya

Proses pengocokan larutan dengan
alat pengocok
Komentar
Posting Komentar