LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
PENILAIAN KERUSAKAN HAMA PADA TANAMAN
KACANG HIJAU (Vigna radiata)




Oleh
SARAH DWI YUSTIANI
05111007112





PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Indralaya
2012

I.                   PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang


Tingkat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh penyakit tanaman disebut intensitas penyakit. Berbeda pada hama tanaman gejala kerusakan merupakan satu-satunya sarana yang dapat dipergunakan  untuk menentukan intensitas penyakit.
            Untuk menentukan tingkat serangan umumnya ditekankan pada berapa persen bagian jaringan tanaman yang rusak akibat penyakit. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa bagian tersebut secara otomatis tidak mampu melakukan fungsi fisiologis (fotosintesis). Secara normal agar memudahkan dalam mendapatkan cara pengukuran, maka dibuat grading dalam bentuk kategori atau klas grading, hendaknya dilakukan dengan cermat. Jumleh kelas jangan terlalu kecil karena bisa tak ada perbedaan kapasitasnya, dan jangan terlalu banyak karena membingungkan pengamat untuk memasukkan kelas tertentu.
Epidemic penyakit tanaman merupakan populasi dari tanaman yang terinfeksi penyakit dalam populasi inang, dan perubahan penyakit tanaman pada waktu dan ruang tertentu. Sebelum kita mengetahui lebih jauh tentang epidemic penyakit, terlebih dahulu kita harus memantaunya. Pemantauan terhadap penyakit tanaman dapat dilakukan dengan mengetahui intensitas penyakit tanaman.
Intensitas penyaikit tanaman perlu diketahui untuk memudahkan kita dalam member penanganan terhadap tanaman yang terserang penyakit. Karena penyakit tanaman merupakan interaksi antara tanaman dan pathogen yang disebabkan oleh lingkungan, maka perlu pengukuran kuantitas tanaman, pathogen, dan lingkungan dalam menimbulkan penyakit.
Intensitas penyakit mencakup isidensi (kejadian) penyakit dan severitas (keparahan) penyakit. Dengan mengetahui waktu terjadi dan keparahan penyakit, kita akan mampu mengetahui dampak ekonomi dan lingkungan yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Selauin itu, penanganan terhadap tanaman yang terserang penyakit pun akan lebih tepat.
Salah satu tahapan yang penting dalam mendiagnosa gejala serangan penyakit tanaman adalah identifikasi terhadap patogen tanaman. Patogen yang diidentifikasi berasal dari pengambilan sampel tanaman yang terserang penyakit. Sampel tanaman yang terserang penyakit kemudian diisolasi dan ditumbuhkan pada media aseptik buatan. Identifikasi menjadi sangat penting karena pada tahapan tersebut ditekankan beberapa hal pokok seperti untuk pengendalian khususnya untuk uji antagonis ataupun hanya sekedar untuk mengetahui jenis patogen yang menyerang tanaman.
Dari hasil identifikasi, dapat diperoleh suatu kesimpulan mengenai jenis patogen yang menyerang tanaman kemudian lebih lanjut upaya tersebut juga dapat diarahkan untuk mempelajari upaya – upaya pengendalian yang tepat untuk mencegah serangan patogen tersebut. Salah satunya melalui uji antagonismu dari jamur antagonis. Hal ini menyebabkan proses identifikasi patogen tanaman menjadi sangat penting untuk memastikan jenis patogen yang menyerang tanaman secara akurat. Untuk itu, perlu dilakukan praktik secara langsung untuk mengidentifikasi patogen tanaman.
Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah.

B.     Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk memperkenalkan kepada mahasiswa untuk menentukan tingkat kerusakan mutlak dan tingkat kerusakan bervariasi dari suatu tanaman yang terserang oleh patogen.






II.                TINJAUAN PUSTAKA

A.    Tanaman

A.1 Sistematika kacang hijau
Kingdom         :Plantae

Divisi               : Spermatopyha
Sub-divisi        : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledoneae
Ordo                : Rosales
Famili              : Papilionaceae
Genus              : Vigna
Spesies            : Vigna radiata atau Phaseolus radiates

A.2 Syarat tumbuh

            Kacang hijau merupakan tanaman tropis yang menghendaki suasana panas selama hidupnya. Tanaman ini dapat ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 700 m (5 – 700 m dpl). Di daerah dengan ketinggian di atas 750 m dpl produksi kacang hijau menurun.
Tanaman ini dapat tumbuh baik pada suhu udara optimal antara 25 – 27C. Tanaman ini menyukai daerah yang memiliki kelembapan udara antara 50 – 89%. Selain itu, tanaman ini memerlukan cahaya matahari lebih dari 10 jam/hari.
Daerah yang memiliki curah hujan 50 – 200mm/bulan merupakan daerah yang baik untuk budidaya tanaman ini. Curah hujan tinggi menyebabkan tanaman mudah rebah dan terserang penyakit.
Jenis tanah yang dikehendaki kacang hijau adalah tanah liat berlempung atau lempung yang mengandung bahan organic tinggi, memiliki tata air dan udara yang baik. Jenis tanah yang dianjurkan adalah ultisol, latosol, dan lahan sawah menjelang penanaman padi pada musim kemarau. Keasaman tanah yang diperlukan untuk tumbuh optimal, yaitu pH tanah antara 5,8 – 6,5. Tanah dibawah pH 5,8 perlu diberikan pengapuran.

B.     Hama

B.1 Klasifikasi

Nama umum    : Spodoptera litura (Fabricius)
Klasifikasi       : Kingdom : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo                : Lepidoptera
Famili              : Noctuidae
Genus              : Spodoptera
Spesies            : Spodopter litura

B.2 Gejala Hama

Ulat  Grayak ini merupakan hama pada hampir semua tanaman baik dari tanaman pangan seperti padi,kedele dan jagung, juga pada tanaman hortikultura seperti cabe, kubis, kacang panjang dan lainnya. Ulat grayak juga menyerang tanaman perkebunan seperti tembakau. Bahkan ulat ini juga menyerang berbagai macam gulma sepertiLimnocharis sp., Passiflora foetida , Ageratum sp., Cleome sp., Clibadium sp., dan Trema sp. Serangan Ulat ini terjadi pada stadium larva (ulat).
Larva yang masih muda merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas (transparan) dan  tulang daun. Larva instar lanjut merusak tuulang daun dan kadang-kadang menyerang polong.
Biasanya larva berada dipermukaan bawah daun dan menyerang secara serentak dan berkelompk. Serangan berat menyebabkan tanaman gundul karena daun dan buah habis dimakan ulat. Serangan berat pada umumnya terjadi pada musim kemarau dan menyebabkan defoliasi daun yang sangat berat.

B.3. Siklus Hidup

Perkembangan ulat grayak bersifat metamorfosis sempurna, terdiri atas stadia ulat, kepompong, ngengat dan telur.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivM43MjQ5b6Xq-JM-eH1xfut-noOl1fFtHlexr4tXiD8MkOxBKFznMYQ-sZtMaGLt0ApfzPOG9-Lk1qi8rSqWRb_ZMsukLBQ7YCIp7uht5zKaZ98O4-qTNTsPXxXtFuWi5g4nbcF4z3dMP/s400/Gambar-1.jpg

Ulat tua bersembunyi di dalam tanah pada siang hari dan giat nenyerang tanaman pada malam hari. 
Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian dasar melekat pada daun (kadang- kadang tersusun dua lapis),berwarna coklat kekuningan. Telur diletakkan pada bagian daun atau bagian tanaman lainnya, baik pada tanaman inang maupun bukan inang. Kelompok telur tertutup bulu seperti beludru yang berasaldari bulu-bulu tubuh bagian ujung ngengat betina, berwrna kuning kecoklatan.
Produksi telur mencapai 3.000 butir per induk betina, tersusun atas 11 kelompok dengan rata-rata  25 -200 butir per kelompok. Stadium telur berlangsung selam 3 hari (2;10;12). Setelah telur menetas, ulat tinggal untuk sementara waktu di tempat telur diletakkan. Beberapa hari kemudian, ulat tersebut berpencaran.
Larva mempunyai warna yang bervariasi, memiliki kalung (bulan sabit) berwrna hitam pada segmen abdomen keempat dan kesepuluh. Pada sisi lateral dorsal terdapat garis kuning. Ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecokelatan, dan hidup berkelompok.
Beberapa hari setelah menetas (bergantung ketersediaan makanan), larva menyebar dengan menggunakn benang sutera dari mulutnya. Pada siang hari,  larva bersembunyi di dalam tanah atau tempat lembab dan menyerang tanaman pada malam hari atau pada intensitas cahaya matahari rendah. Biasanya ulat berpindah ke tempat lain secara bergerombol dalam jumlah besar.-masing berlangsung sekitar 2 hari. Ulat berkepompong didalam tanah. Stadia kepompong dan ngengat masing-masing berlangsung selama 8 dan 9 hari. Ngengat meletakkan telur pada umur 2-6 hari.Ulat muda menyerang daun hingga tertinggal epidermis atas dan tulang-tulang daun saja. Ulat tua merusak pertualangan daun hingga tampak bolong-bolong bekas gigitan ulat pada daun.
Warna dan perilaku ulat instar terakhir mirip ulat tanah Agrothis ipsilon, naun terdapat perbedaan yang cukup mencolok, yaitu pada ulat grayak  terdapat tanda bulan sabi berwarna hijau gelap dengan garis penggung gelap memanjang. Pada umur 2 minggu, panjang ulat sekitar 5 cm. Ulat berkepompong di dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon), berwarna cokelat kemerahan dengan panjang sekitar 1,60 cm. Siklus hidup berkisar antara 30-60 hari ( lama stadium telur 2-4 hari). Stadium larva terdiri atas 5 instar yang berlangsung selama 4-6 hari. Lama stadium pupa 8-11 hari.
III.             PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A.    Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Praktikum penilaian kerusakan hama dan penyakit pada tanaman ini di laksanakan di laboratorium insektarium, Jurusan Hama Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Indralaya pada tanggal 7 Desember 2012 pukul 08.00 WIB.

B.     Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum penilaian kerusakan hama penyakit pada tanaman adalah 1). Kamera dan 2). Label.
Adapun Bahan yang di gunakan dalam praktikum penilaian kerusakan penyakit pada tanaman adalah 1). Jenis tanaman yang terserang hama dan penyakit yaitu kacang hiaju(Vigna radiata).

C.    Cara Kerja

1.      Bawalah mahasiswa praktikum ke lapangann di sekitar kampus Universitas Sriwijaya dan amatilah tanaman-tanaman yang ada di lapangan tersebut.
2.      Bloklah tanaman yang sakit tersebut, dan beri penjelasan mengenai cara perhitungan kerusakan mutlak ( persentase kerusakan) dan kerusakan bervariasi (intensitas serangan).

Perhitungan Kerusakan Mutlak (Persentase kerusakan)

 P = n/N x 100 %

Keterangan:
P = Persentase atau intensitas serangan (%)
n = banyaknya tanaman / bagian tanaman atau tunas sakit
N = banyaknya tanaman ataau tunas tanaman

Perhitungan Kerusakan bervariasi ( Intensitas Serangan)

I  =  (n x v) / (Z x N)  x  100%
Keterangan :

I = intensitas serangan (%)
n = banyaknya tanaman atau bagian tanaman seperti bagian batang, bagian daun, bagian polong yang diamati dari setiap kategori serangan
v = nilai skala dari tiap kategori
Z= nilai skala dari tiap kategori serangan yang tertinggi
N= banyaknya tanaman atau bagian tanaman seperti bagian batang, bagian daun, bagian polong yang diamati.
















IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil

Persentase kerusakan mutlak

P          = n / N  x 100 %
            = 10 / 49 x 100 %
            = 20,4 %

Persentase kerusakan bervariasi

% I      =       100 %
                   Z  N    

Tanaman 1
% I      =       100 %
                   2  5    
            =  20 %
Tanaman 2
% I      =       100 %
                   1  4
            = 25 %
Tanaman 3
 % I     =       100 %
                   0  5
            = -
Tanaman 4
   % I   =       100 %
                   1  5
            = 20 %   
Tanaman 5
% I      =       100 %
                   1  5
            = 20 %    
Tanaman 6
% I      =       100 %
                   1  5
            = 20 %    
Tanaman 7
% I      =       100 %
                   2  5
            = 20%   

Tanaman 8
% I      =       100 %
                   1  5
            = 20 %    
Tanamaan 9
% I      =       100 %
                   0  5
            = -   
Tanaman 10
% I      =       100 %
                   1  5
            = 20 %    






B.     Pembahasan



Penyakit tumbuhan dapat didefinisikan sebagai gagalnya sel atau jaringan melaksanakan fungsi-fungsi fisiologisnya akibat gangguan terus –menerus oleh gen atau penyebab primer dan menimbulkan gejala. Sementara itu gejala penyakit adalah kelainan atau penyimpanagan keadaan normal tanaman akibat adanya gangguan penyebab penyakit dan dapat dilihat oleh mata telanjang. Menurut sifatnya gejala penyakit dapat dibedakan menjadi dua yaitu gejala morfologi dan gejala histologi. Gejala morfologi adalah penyimpanagan pada tanaman yang mudah dikenali dengan panca indra (lihat,raba,cium). Sedangkan gejala histologi adalah penyimpangan pada tanaman yang dapat diketahui melalui pemeriksaan mikroskop terhadap jaringan tanaman yang sakit. (Haryono, 1996)
Untuk menghitung seberapa besar intensitas penyakit tumbuhan kali ini pada daun  dapat dilakukan pengamatan dengan melihat gejala morfologinya yaitu berupa bercak-bercak.  Pengamatan dilakukan dengan melihat tingkat keparahan pada daun tersebut dan kemudian dibedakan atas skor-skor tertentu. Dalam praktikum ini dilakukan pembagian menjadi 6 skor.
Dalam praktikum mengukur intensitas penyakit, praktikan melakukan dua percobaan dimana percobaan pertama adalah keterjadian penyakit dan percobaan kedua dalah keparahan penyakit. Keparahan penyakit dapat dijelaskan dengan cara membagi kisaran dari tak ada gejala penyakit sampai penuh gejala penyakit ke dalam kelas-kelas atau kategori-kategori dalam skor-skor tertentu. Jaringan diamati dengan cara mencocokan termasuk kategori atau kelas yang sesuai. Skor penyakit merupakan diskripsi kelas-kelas yang akan dibedakan secara verbal dan numerik. Skor penyakit mencakup semua kisaran dari 0 sampai 100% gejala penyakit. Setiap kelas dicirikan oleh suatu tingkat penyakit tertentu, yang memilki suatu nilai numerik (Anonim, 2008).
Pada pengukuran intensitas penyakit, perlu dilakukan pengamatan penyakit yang merupakan kegiatan penghitungan dan pengumpulan informasi tentang keadaaan populasi atau tingkat serangan penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada waktu dan tempat tertentu. Teknik Pengamatan penyakit pada tanaman memiliki arti penting dikarenakan merupakan salah satu cara untuk mengetahui tingkat kerusakan serta perkembangan dari penyakit sehingga dapat menjawab pertanyaan perlu tidaknya penyakit tersebut untuk dikendalikan atau diperlukan pengendalian secara cepat atau penegndalian dalam waktu yang lambat. Tingkat keparahan penyakit dan kerusakan bercak daun cercospora pada kacang tanah adalah 38,5% dan kejadian penyakit sebesar 100%. Sehingga dibutuhkan pengendalian tertentu agar penyakit ini tidak menyebar ke tanaman lain.


































V.                KESIMPULAN DAN SARAN


A.    Kesimpulan


1.      Dalam penanaman kacang hijau ini kami tidak menggunakan bahan kimia, karena pada praktikum yang kami lakukan tujuan utamanya adalah untuk mengamati hama-hama yang menyerang tanaman kacang hijau serta gejala serangannya.
2.      Penyakit tumbuhan dapat didefinisikan sebagai gagalnya sel atau jaringan melaksanakan fungsi-fungsi fisiologisnya akibat gangguan terus –menerus oleh gen atau penyebab primer dan menimbulkan gejala.
3.      Hama yang menyerang tanaman kacang hijau antara lain ulat grayak.
4.      Jenis-jenis hama yang menyerang tanaman kacang hijau kebanyakan sama yaitu antara lain ulat grayak, belalang.
5.      Keparahan penyakit dapat dijelaskan dengan cara membagi kisaran dari tak ada gejala penyakit sampai penuh gejala penyakit ke dalam kelas-kelas atau kategori-kategori dalam skor-skor tertentu.

B.     Saran
Praktikan diharapkan benar-benar melakukan praktikum ini dan lebih serius dalam melaksanakan nya. Selain itu, praktikan diharapkan lebih mempunyai literatur tetntang hama dan penyakit yang terjadi pada tanaman yang mereka tanaman, sehingga dapat dengan mudah mengidentifikasikan hamaa dan penyakit yang ada.








DAFTAR PUSTAKA



Bate-smith, E.C.  1967. Comparative Biochemistry  of Flavonoid-III Phytochemistry. Pergamon Press Ltd. London. 6.1407-1413.
Beck, B.  1964. The Oestrogenic  Isoflavones  of Subterranean Clover. Aust. J.Agric. Res.  15  (2). 223-30.
Braden, A.W.H.  et.  al.  1967. The Oestrogenic Activity and Metabolism of Certain in  Sheep. Aust. 1.  Agric. Res.  18.335-248.
E. Holiston, dan L. Makmur.  1990. Flavonoid dan Phyto Medica.Kegunaan dan Prospek. Phyto Medica.  1(2).  120-127.
Gilderslleve,  R.R.  1991.  Detection  of Isoflavones  in  Seedling  Subterranean Clover. Crop Science. U  ni v.  of California. 31  (4).
Harborne,  J.B.  1967.  comparative Biochemistry of The Flavonoids. Academic Prees. London.
S, H. Soeprapto.1993. Bertanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya : Jakarta.
Tjirosoepomo, Gembong. 2004. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penetapan N-Total tanah

laporan penetapan tekstur tanah di laboratorium

laporan okulasi karet